JAGAT RAYA DAN TATA SURYA
1. Pengertian Jagat Raya
Jagat raya atau alam semesta (the universe) merupakan ruang tidak
terbatas yang di dalamnya terdiri atas semua materi, termasuk tenaga dan
radiasi. Jagat raya tidak dapat diukur, dalam arti batas-batasnya
tidak dapat diketahui dengan jelas.
Galaksi, bintang, matahari, nebula, planet, meteor, asteroid, komet, dan
bulan, hanyalah sebagian kecil dari materi di jagat raya yang dikenal
manusia yang hidup di Bumi. Akan tetapi, secara lebih mendalam semua
yang ada di jagat raya masih merupakan rahasia yang sama sekali belum
terungkap. Hal ini antara lain disebabkan karena tingkat ilmu
pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia dalam mengungkap rahasia
alam semesta masih sangat terbatas.
Seperti diketahu Bumi tempat tinggal manusia merupakan suatu bulatan
kecil yang dikenal sebagai suatu planet anggota dari sistem tata surya
dengan matahari sebagai pusatnya. Matahari merupakan salah satu bintang
dari sekitar 200 miliar bintang yang ada di Galaksi Bima Sakti (The
Milky Ways atau Kabut Putih). Lebih jauh lagi berdasarkan penelitian,
Bima Sakti bukanlah satu-satunya galaksi yang ada di jagat raya,
melainkan terdapat ratusan, jutaan, bahkan terdapat miliaran galaksi
pengisi jagat raya ini.
2. Teori Terbentuknya Jagat Raya
Rahasia mengenai bagaimana terbentuknya asal mula jagat raya telah
melahirkan asumsi dan teori yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain
sebagai berikut.
a. Teori Ledakan Besar (The Big Bang Theory)
 |
Big bang |
Menurut Teori Ledakan Besar, jagat raya berawal dari adanya suatu massa
yang sangat besar dengan berat jenis yang besar pula dan mengalami
ledakan yang sangat dahsyat karena adanya reaksi pada inti massa. Ketika
terjadi ledakan besar, bagian-bagian dari massa tersebut berserakan dan
terpental menjauhi pusat dari ledakan. Setelah miliaran tahun kemudian,
bagian-bagian yang terpental tersebut membentuk kelompok-kelompok yang
dikenal sebagai galaksi-galaksi dalam sistem tata surya.
b. Teori Mengembang dan Memampat (The Oscillating Theory)
Teori ini dikenal pula dengan nama teori ekspansi dan konstraksi.
Menurut teori ini jagat raya terbentuk karena adanya suatu siklus materi
yang diawali dengan massa ekspansi (mengembang) yang disebabkan oleh
adanya reaksi inti hidrogen. Pada tahap ini terbentuklah galaksi-
galaksi. Tahap ini diperkirakan berlangsung selama 30 miliar tahun.
Selanjutnya, galaksi-galaksi dan bintang yang telah terbentuk akan
meredup kemudian memampat didahului dengan keluarnya pancaran panas yang
sangat tinggi. Setelah tahap memampat, maka tahap berikutnya adalah
tahap mengembang dan kemudian pada akhirnya memampat lagi.
3. Galaksi (The Galaxy)
Galaksi adalah kumpulan bintang yang membentuk suatu sistem,terdiri atas
satu atau lebih benda angkasa yang berukuran besar dan dikelilingi oleh
benda-benda angkasa lainnya sebagai anggotanya yang bergerak
mengelilinginya secara teratur.
Di dalam ilmu astronomi, galaksi diartikan sebagai suatu sistem yang
terdiri atas bintang-bintang, gas, dan debu yang amat luas, di mana
anggotanya memiliki gaya tarik menarik (gravitasi). Suatu galaksi pada
umumnya terdiri atas miliaran bintang yang memiliki ukuran, warna, dan
karakteristik yang sangat beraneka ragam.
Secara garis besar, menurut morfologinya galaksi dibagi menjadi tiga
tipe, yaitu galaksi tipe spiral, elips, dan tidak beraturan. Pembagian
tipe ini berdasarkan bentuk atau penampakan galaksi-galaksi tersebut.
Galaksi-galaksi yang diamati dan dipelajari oleh para astronom sejauh
ini komposisinya sekitar 75% galaksi spiral, 20% galaksi elips, dan 5%
galaksi tidak beraturan. Namun, ini bukan berarti galaksi spiral adalah
galaksi yang paling banyak terdapat di alam semesta ini. Sesungguhnya
yang paling banyak terdapat di alam semesta ini adalah galaksi elips.
Jika diambil volume ruang angkasa yang sama, orang akan menemukan lebih
banyak galaksi elips daripada galaksi spiral. Hanya saja galaksi tipe
ini banyak yang redup sehingga teramat sulit untuk diamati.
Galaksi Bima Sakti termasuk galaksi spiral dan berbentuk seperti cakram,
garis tengahnya kira-kira 100.000 tahun cahaya. Pusat galaksi berada
dalam gugusan bintang Sagitarius. Diperkirakan galaksi ini berumur
12–14 biliun tahun dan terdiri atas 100 biliun bintang.
Istilah tahun cahaya menggambarkan jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam
waktu satu tahun. Dengan kecepatan 300.000 km/s, dalam waktu satu tahun
cahaya akan menempuh jarak sekitar 9,5 juta kilometer. Jadi, satu tahun
cahaya adalah 9,5 juta km. Hal ini berarti garis tengah galaksi Bima
Sakti sekitar 100.000 × 9,5 juta km, atau 950 ribu juta km.
Untuk memudahkan perhitungan, digunakan satuan jarak, yaitu tahun
cahaya. Dengan satuan ini, tebal bagian pusat galaksi Bima Sakti sekitar
10.000 tahun cahaya.
Lalu, di mana letak Matahari? Matahari terletak sekitar 30.000 tahun
cahaya dari pusat Bima Sakti. Matahari bukanlah bintang yang istimewa,
melainkan hanyalah salah satu dari 200 miliar bintang anggota Bima
Sakti. Bintang-bintang anggota galaksi Bima Sakti tersebar dengan jarak
dari satu bintang ke bintang lain berkisar antara 4 sampai 10 tahun
cahaya. Bintang terdekat dengan matahari adalah Proxima Centauri
(anggota dari sistem tiga bintang Alpha Centauri), yang berjarak 4,23
tahun cahaya. Semakin ke arah pusat galaksi, jarak antarbintang semakin
dekat, atau dengan kata lain kerapatan galaksi ke arah pusat semakin
besar.
Bima Sakti bukanlah satu-satunya galaksi yang ada di alam semesta ini.
Dalam alam semesta, ada begitu banyak sistem seperti ini yang mengisi
setiap sudut langit sampai batas yang dapat dicapai oleh teleskop yang
paling besar. Jumlah keseluruhan galaksi yang dapat dipotret dengan
teleskop berdiameter 500 cm di Mt. Palomar sampai kira-kira satu miliar
galaksi. Jadi, tidaklah salah jika seseorang memperkirakan bahwa
andaikan seseorang memiliki teleskop yang jauh lebih besar, orang
tersebut dapat melihat jauh lebih banyak lagi galaksi-galaksi di alam
semesta ini.
4. Nebula
Nebula adalah kabut atau awan debu dan gas yang bercahaya dalam suatu
kumpulan yang sangat luas. Nebula banyak diyakini oleh para ahli sebagai
suatu materi cikal bakal terbentuknya suatu sistem bintang, seperti
sistem bintang matahari atau disebut tata surya. Nebula yang terkenal,
antara lain nebula Orion M42 pada rasi Orion dan Nebula Trifid pada rasi
Sagitarius.
5. Bintang (The Star)
Bintang adalah benda angkasa yang memiliki cahaya sendiri. Salah satu
bintang adalah Matahari atau disebut Bintang Matahari (The Sun Star),
nama-nama bintang lainnya, antara lain Bintang Polaris, Antares,
Aldebaran, Sirius, Spica, Betelguese, Hidra, Pegasus, Phoenix, Carina,
dan Vega.
Kelompok bintang-bintang yang membentuk pola tertentu dan letaknya
berdekatan disebut Rasi Bintang atau Konstelasi Bintang. Contohnya, rasi
bintang Pari (Crux) yang merupakan kumpulan dari empat bintang yang
letaknya berdekatan, yakni Bintang Alfa, Beta, Gamma, dan Delta. Selain
rasi bintang Crux, nama-nama rasi bintang lainnya, antara lain rasi
bintang Orion, Centauri, Ursa Mayor, Lyra, dan Aquilla.
Di sekitar ekliptika yang seolah-olah melingkari bola langit ter- dapat
12 rasi bintang yang disebut Zodiak. Dua belas Rasi bintang yang
terdapat di sekitar ekliptika adalah Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo,
Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricornus, Aquarius, dan Pisces.
B. TATA SURYA
Tata surya atau sistem matahari adalah suatu sistem yang terdapat di
jagat raya terdiri atas matahari sebagai pusatnya, planet-planet
(termasuk Planet Bumi), satelit-satelit (misalnya bulan), asteroid,
komet, meteor, debu, kabut, dan benda-benda lainnya sebagai anggota dari
tata surya yang beredar mengelilingi pusatnya, yakni matahari pada
orbit atau garis edarnya masing-masing.
Berdasarkan pengertian tersebut, dapatlah diduga bahwa bintang- bintang
yang lainnya pun kemungkinan besar memiliki sistem seperti tata surya
dengan pusat dan lintasan orbit tertentu.
Dalam arti lain, bukan tidak mungkin setiap bintang memiliki sistem
bintang seperti matahari, karena matahari hanya merupakan satu dari
miliaran bintang yang ada di jagat raya. Pertanyaannya mungkinkah ada
kehidupan lain selain di bumi?
Benda-benda angkasa yang termasuk struktur utama dari sistem tata surya adalah:
1. matahari (the sun);
2. planet-planet (the planets);
3. bulan (the moon) dan satelit lainnya;
4. asteroid; dan
5. komet.
1. Teori Terjadinya Tata Surya
a. Teori Nebula
Teori Nebula kali pertama dikemukakan oleh seorang filsuf ber- kebangsaan
Jerman yang bernama Immanuel Kant yang hidup antara tahun 1724–1804.
Menurut Kant, tata surya berasal dari nebula, yaitu gas atau kabut tipis
yang sangat luas dan bersuhu tinggi berputar sangat lambat. Perputaran
yang lambat tersebut menyebabkan terbentuknya konsentrasi materi yang
memiliki berat jenis tinggi yang disebut inti massa pada beberapa tempat
yang berbeda. Inti massa yang terbesar terbentuk di tengah, sedangkan
yang kecil terbentuk di sekitarnya. Akibat terjadinya proses pendinginan
inti-inti massa yang lebih kecil maka berubahlah menjadi planet-planet,
sedangkan yang paling besar masih tetap dalam keadaan pijar dan bersuhu
tinggi disebut matahari.
Teori nebula lainnya yang berkembang dikemukakan oleh seorang astronom
berkebangsaan Prancis bernama Pierre Simon de Laplace yang hidup antara
1749–1827. Menurut Laplace, tata surya berasal dari bola gas yang
bersuhu tinggi dan berputar sangat cepat. Oleh karena perputaran yang
terjadi sangat cepat, maka terlepaslah bagian-bagian dari bola gas
tersebut dalam ukuran dan jangka waktu yang berbeda- beda. Bagian-bagian
yang terlepas tersebut berputar dan pada akhirnya mendingin membentuk
planet-planet, sedangkan bola gas asal menjadi matahari.
b. Teori Planetesimal
Moulton dan Chamberlain (1900) mengemukakan pendapat bahwa tata surya
berasal dari adanya bahan-bahan padat kecil yang disebut planetesimal
yang mengelilingi inti berwujud gas dan bersuhu tinggi. Gabungan dari
bahan-bahan padat kecil itu kemudian membentuk planet-planet, sedangkan
inti massa yang bersifat gas dan bersuhu tinggi membentuk matahari.
c. Teori Pasang Surut
Astronom Jeans dan Jeffreys (1917) mengemukakan pendapat bahwa tata surya
pada awalnya hanya terdiri dari matahari tanpa memiliki anggota.
Planet-planet dan anggota lainnya terbentuk karena adanya bagian dari
matahari yang tertarik dan terlepas oleh adanya pengaruh gravitasi
bintang yang melintas ke dekat matahari. Bagian yang terlepas itu
berbentuk seperti cerutu panjang (bagian tengah besar dan kedua ujungnya
mengecil) yang terus berputar mengelilingi matahari. Lama kelamaan
mendingin dan membentuk bulatan-bulatan yang disebut planet.
d. Teori Bintang Kembar
Teori Bintang Kembar dikemukakan oleh seorang astronom berkebangsaan
Inggris yang bernama Lyttleton (1930). Teori ini mengemukakan bahwa
awalnya matahari merupakan bintang kembar yang satu dengan lainnya
saling mengelilingi. Pada suatu masa, melintas bintang lain dan menabrak
salah satu bintang kembar tersebut kemudian menghancurkannya menjadi
bagian-bagian kecil yang terus berputar dan mendingin menjadi planet-
planet yang mengelilingi bintang tetap bertahan, yaitu matahari.
e. Teori Awan Debu
Von Weizsaecker (1945) dan G.P. Kuiper (1950) mengemukakan pendapat
bahwa tata surya berasal dari awan yang sangat luas yang terdiri dari
debu dan gas (hidrogen dan helium). Adanya ketidakteraturan dalam awan
tersebut menyebabkan terjadinya penyusutan karena gaya tarik menarik dan
gerakan perputaran yang sangat cepat dan teratur sehingga terbentuklah
piringan seperti cakram. Inti cakram yang menggelembung kemudian menjadi
matahari, sedangkan bagian pinggirnya berubah bentuk menjadi
planet-planet.
Ahli astronomi lainnya yang mengemukakan teori awan debu antara lain F.L
Whippel dari Amerika Serikat dan Hannes Alven dari Swedia. Menurutnya
tata surya berawal dari matahari yang berputar dengan cepat dengan
piringan gas di sekelilingnya yang kemudian membentuk planet- planet
yang beredar mengelilingi matahari.
2. Matahari sebagai Pusat Tata Surya
Matahari merupakan salah satu bintang di dalam Galaksi Bima Sakti yang
memiliki fungsi dan peranan paling penting di dalam struktur tata surya.
Matahari merupakan bagian dari tata surya yang memiliki ukuran, massa,
volume, temperatur, dan gravitasi yang paling besar sehingga matahari
memiliki pengaruh yang sangat besar pula terhadap benda- benda angkasa
yang beredar mengelilinginya.
Matahari memiliki garis tengah sekitar 1.392.000 km atau sekitar 109
kali garis tengah bumi. Massa atau berat totalnya sekitar 332.000 kali
dari berat bumi, volumenya diperkirakan 1.300.000 kali volume bumi, dan
temperatur di permukaannya sekitar mencapai 5.000° C, sedangkan
temperatur di pusatnya sekitar 15.000.000° C.
Temperatur matahari yang sangat tinggi menurut Dr. Bethe (1938)
disebabkan oleh adanya reaksi inti di dalam tubuh matahari. Ia
berpendapat bahwa dalam keadaan panas dan tekanan yang sangat tinggi,
atom-atom di dalam tubuh matahari akan kehilangan elektron- elektronnya
sehingga kemudian menjadi inti atom yang bergerak ke berbagai arah
dengan kecepatan yang sangat tinggi, dan menimbulkan tumbukan antarinti
atom dan penghancuran sebagian massanya (massa defect), kemudian berubah
menjadi energi panas dan cahaya yang dipancarkan ke berbagai arah.
a. Struktur Matahari
 |
Bagian-bagian Matahari |
1) Atmosfer Matahari
Atmosfer matahari adalah lapisan paling luar dari matahari yang
berbentuk gas, terdiri atas dua lapisan, yaitu kromosfer dan korona.
Kromosfer merupakan lapisan atmosfer matahari bagian bawah yang terdiri
atas gas yang renggang berwarna merah dengan ketebalan sekitar 10.000
km. Lapisan gas ini merupakan lapisan yang paling dinamis karena
seringkali muncul tonjolon cahaya berbentuk lidah api yang memancar
sampai ketinggian lebih dari 200.000 km yang disebut prominensa
(protuberans).
Korona adalah lapisan atmosfer matahari bagian atas yang terdiri atas
gas yang sangat renggang dan berwarna putih atau kuning kebiruan, serta
memiliki ketebalan mencapai ribuan kilometer.
Kromosfer dan korona dalam keadaan normal tidak dapat terlihat jelas
dari bumi karena tingkat sinar terangnya lebih rendah dari lapisan
permukaan matahari. Atmosfer matahari (kromosfer, korona, dan
prominensa) dapat terlihat jelas jika bulatan matahari tertutup oleh
bulatan bulan pada saat terjadi gerhana matahari total atau melalui
pengamatan dengan menggunakan alat yang disebut koronagraf.
2) Fotosfer Matahari
Fotosfer matahari adalah lapisan berupa bulatan berwarna perak
kekuning-kuningan yang terdiri atas gas padat bersuhu tinggi. Pada
fotosfer matahari terlihat adanya bintik atau noda hitam berdiameter
sekitar
300.000 km. Bahkan ada yang berdiameter lebih besar dari diameter bumi
dengan kedalaman sekitar 800 km disebut umbra. Di sekeliling umbra,
biasanya terdapat lingkaran lebih terang disebut penumbra. Noda-noda
hitam pada matahari secara keseluruhan disebut sun spots.
3) Barisfer (Inti Matahari)
Inti matahari adalah bagian dari matahari yang letaknya paling dalam,
berdiameter sekitar 500.000 km dengan tingkat temperatur sekitar
15.000.000° C. Pada bagian ini berlangsung reaksi inti yang menyebabkan
terjadinya sintesis hidrogen menjadi helium dengan karbon sebagai
katalisatornya.
b. Pergerakan Matahari
Matahari tidaklah berada dalam keadaan statis, akan tetapi selalu
bergerak dinamis baik individu maupun secara sistem. Adapun gerakan
matahari secara garis besar terdiri atas gerak rotasi dan revolusi
matahari. Rotasi matahari adalah gerakan matahari berputar pada sumbunya
yang berlangsung sekitar 25,5 hari di bagian ekuator dan sekitar 27
hari di bagian kutub matahari untuk satu kali putaran.
Revolusi matahari adalah gerakan matahari beserta anggota-anggotanya mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti.
c. Peranan Matahari terhadap Kehidupan di Planet Bumi
Matahari merupakan benda angkasa yang memiliki cahaya sendiri. Oleh
karena itu, matahari memiliki peranan sangat penting, antara lain
sebagai sumber cahaya dan panas bagi planet-planet di sekitarnya,
termasuk Bumi, sehingga dapat berlangsung kehidupan manusia, tumbuhan,
dan hewan di Bumi. Selain sebagai sumber panas dan cahaya, matahari
memiliki peranan, sebagai pengatur iklim dan cuaca sehingga
memungkinkan terjadinya variasi kehidupan di muka bumi.
3. Planet-Planet (The Planets)
Planet merupakan benda angkasa yang tidak memiliki cahaya sendiri,
berbentuk bulatan dan beredar mengelilingi matahari. Sebagian besar
planet memiliki pengiring atau pengikut planet yang disebut satelit yang
beredar mengelilingi planet.
Dalam sistem tata surya terdapat delapan planet. Berdasarkan urutannya
dari matahari. Planet-planet tersebut terdiri atas Merkurius, Venus,
Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus, beredar
mengelilingi matahari pada orbit atau garis edarnya masing-masing dalam
suatu sistem tata surya.
a. Klasifikasi Planet
1) Berdasarkan Massanya
- Planet Bermassa Besar (Superior Planet), terdiri atas Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.
- Planet Bermassa Kecil (Inferior Planet), terdiri atas Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars.
2) Berdasarkan Jaraknya ke Matahari
- Planet Dalam (Interior Planet), yaitu
planet-planet yang jarak rata-ratanya ke matahari lebih dekat dari
jarak rata-rata bumi ke matahari atau lintasannya beradadi antara lintasan bumi dan matahari.
Berdasarkan kriteria tersebut, maka yang termasuk Planet Dalam adalah
Merkurius dan Venus. Planet Merkurius ataupun Venus memiliki kecepatan
peredaran mengelilingi matahari berbeda-beda sehingga letak atau
kedudukan planet tersebut jika dilihat dari bumi akan berubah- ubah.
Sudut yang dibentuk oleh garis yang menghubungkan Bumi-Matahari dengan
suatu planet disebut elongasi. Besarnya sudut elongasi yang dibentuk
oleh garis yang menghubungkan Bumi-Matahari-Merkurius, yaitu antara
0°–28°, sedangkan sudut elongasi Bumi-Matahari-Venus adalah antara
0°–50°
- Planet Luar (Eksterior Planet),
yaitu planet-planet yang jarak rata-ratanya ke matahari lebih jauh dari
jarak rata-rata bumi ke matahari atau lintasannya berada di luar lintasan bumi.
Planet-planet yang termasuk ke dalam kelompok planet luar, yaitu Mars,
Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Dilihat dari bumi, sudut
elongasi kelompok Planet Luar berkisar antara 0°–180°. Jika elongasi
salah satu planet mencapai 180°, hal ini berarti planet tersebut sedang
berada dalam kedudukan oposisi, yaitu suatu kedudukan di mana suatu
planet berkedudukan berlawanan arah dengan posisi matahari dilihat dari
bumi. Pada saat oposisi berarti planet tersebut berada pada jarak paling
dekat dengan bumi. Adapun jika elongasi salah satu planet mencapai 0°
berarti planet tersebut mencapai kedudukan konjungsi, yaitu suatu
kedudukan di mana suatu planet berada dalam posisi searah dengan
matahari dilihat dari bumi, pada saat konjungsi berarti planet tersebut
berada pada jarak yang paling jauh dengan bumi.
b. Deskripsi Planet
1) Merkurius
Merkurius merupakan planet yang letaknya paling dekat ke matahari, jarak
rata-ratanya sekitar 57,8 juta km. Oleh karena jaraknya yang sangat
dekat ke matahari, maka suhu udara siang hari menjadi sangat panas,
mencapai 400° C, sedangkan pada malam hari menjadi sangat dingin,
mencapai -2000° C. Perbedaan suhu harian yang sangat besar disebabkan
Merkurius tidak memiliki atmosfer.
Merkurius memiliki ukuran paling kecil dalam sistem tata surya, garis
tengahnya hanya 4.850 km hampir sama ukurannya dengan bulan yang
memiliki diameter sekitar 3.476 km. Planet ini beredar mengelilingi
matahari dalam suatu orbit eliptis (lonjong) dengan periode revolusinya
sekitar 88 hari, dan periode rotasinya sekitar 59 hari.
2) Venus
Venus merupakan planet yang letaknya paling dekat ke bumi, yaitu sekitar
42 juta km. Oleh karena itu, planet ini dapat terlihat jelas dari bumi
sebagai noktah kecil sangat terang dan berkilauan menyerupai bintang
pada pagi atau senja hari. Orang-orang di bumi seringkali menyebutnya
sebagai bintang pagi atau timur ketika Venus berada pada posisi elongasi
barat, dan bintang senja pada waktu elongasi timur.
Selain karena letaknya paling dekat ke bumi, kecemerlangan Venus
disebabkan oleh adanya atmosfer berupa awan putih yang menyelubungi
planet. Atmosfer tersebut berfungsi memantulkan cahaya matahari yang
diterimanya.
Jarak rata-rata Venus ke matahari sekitar 108 juta km, diselubungi
atmosfer sangat tebal terdiri atas gas karbondikosida dan sulfat.
Sehingga pada siang hari suhunya mencapai 477° C, sedangkan pada malam
hari suhunya tetap tinggi karena panas yang diterimanya tertahan
atmosfer planet tersebut. Diameter Venus sekitar 12.140 km, periode
rotasinya sekitar 244 hari dengan arah sesuai jarum jam dan periode
revolusinya sekitar 225 hari.
3) Bumi
Bumi merupakan planet yang berada pada urutan ketiga dari matahari.
Jarak rata-ratanya ke matahari sekitar 150 juta km. Periode revolusinya
sekitar 365,25 hari dan periode rotasinya sekitar 23 jam 56 menit dengan
arah barat-timur. Bumi memiliki satu satelit yang selalu beredar
mengelilingi bumi, yaitu Bulan (The Moon).
Diameter Kota Malang Bumi sekitar 12.756 km hampir sama dengan diameter Venus.
4) Mars
Mars merupakan Planet Luar (eksterior planet) yang paling dekat ke bumi.
Planet ini tampak sangat jelas dari bumi setiap 2 tahun 2 bulan sekali,
yaitu pada kedudukan oposisi. Pada saat itu jaraknya hanya sekitar
56 juta km dari bumi.
Planet ini merupakan satu-satunya planet yang bagian permukaannya dapat
diamati dari bumi dengan mempergunakan teleskop. Adapun planet-planet
lain terlalu sulit untuk diamati karena diselubungi oleh gas berupa awan
tebal dan jaraknya terlalu jauh dari bumi.
Mars merupakan planet yang keadaannya paling mirip dengan bumi sehingga
memungkinkan terdapatnya kehidupan. Oleh karena itu, para astronom lebih
banyak menghabiskan waktunya untuk mempelajari Mars dibandingkan planet
lain dalam jagat raya.
Jarak rata-rata Planet Mars ke matahari sekitar 228 juta km, periode
revolusinya sekitar 687 hari, sedangkan periode rotasinya sekitar 24 jam
37 menit. Diameter planet ini sekitar setengah dari diameter bumi,
yaitu
6.790 km diselimuti oleh lapisan atmosfer yang tipis dengan suhu udara
relatif lebih rendah daripada suhu udara di bumi. Planet Mars memiliki
dua satelit, yakni Phobos dan Deimos.
5) Yupiter
Yupiter merupakan planet terbesar dalam sistem tata surya di tata surya,
diameternya sekitar 142.600 km, terdiri atas materi dengan tingkat
kerapatannya rendah, terutama hidrogen dan helium.
Jarak rata-ratanya ke matahari sekitar 778 juta km, berotasi pada
sumbunya dengan sangat cepat sekitar 9 jam 50 menit, sedangkan periode
revolusinya sekitar 11,9 tahun.
Planet Yupiter memiliki satelit yang jumlahnya paling banyak, yaitu
sekitar 13 satelit, di antaranya terdapat beberapa satelit yang
ukurannya besar, seperti Ganimedes, Calisto, Galilea, Io, dan Europa.
6) Saturnus
Saturnus merupakan planet terbesar kedua setelah Yupiter, diameternya
sekitar 120.200 km. Periode rotasinya sekitar 10 jam 14 menit dan
revolusinya sekitar 29,5 tahun. Planet ini memiliki tiga cincin tipis
yang arahnya selalu sejajar dengan ekuatornya, yaitu Cincin Luar, Cincin
Tengah, dan Cincin Dalam.
Diameter Cincin Luar Planet Saturnus adalah sekitar 273.600 km, Cincin
Tengah sekitar 152.000 km, dan Cincin Dalam memiliki diameter sekitar
160.000 km. Antara Cincin Dalam dan permukaan Saturnus dipisahkan ruang
kosong berjarak sekitar 11.265 km.
Planet Saturnus memiliki atmosfer yang sangat rapat terdiri atas
hidrogen, helium, metana, dan amoniak. Planet ini memiliki satelit yang
jumlahnya sekitar 11 satelit, di antaranya Titan, Rhea, Thetys, dan
Dione.
7) Uranus
Planet Uranus memiliki diameter 49.000 km, hampir empat kali lipat dari
diameter bumi. Periode revolusinya sekitar 84 tahun, sedangkan rotasinya
sekitar 10 jam 49 menit.
Berbeda dengan planet lainnya, sumbu rotasi pada Planet Uranus searah
dengan arah datangnya sinar matahari sehingga kutubnya seringkali
menghadap ke arah matahari.
Atmosfer Uranus dipenuhi oleh hidrogen, helium, dan metana. Di luar
batas atmosfer Planet Uranus terdapat lima satelit yang menge-
lilinginya, yaitu Miranda, Ariel, Umbriel, Titania, dan Oberon. Jarak
rata-rata Planet Uranus ke matahari sekitar 2.870 juta km.
Seperti halnya dengan Yupiter dan Saturnus, planet ini pun merupakan
planet raksasa yang sebagian besar massanya berupa gas. Planet Uranus
merupakan planet bercincin, ketebalan cincinnya sekitar satu meter
terdiri atas partikel-partikel gas yang sangat tipis dan redup.
8) Neptunus
Neptunus merupakan planet superior dengan diameter 50.200 km. Jarak
rata-ratanya ke matahari sekitar 4.497 juta km. Periode revolusinya
sekitar 164,8 tahun, sedangkan periode rotasinya sekitar 15 jam 48
menit. Atmosfer Neptunus dipenuhi oleh hidrogen, helium, metana, dan
amoniak yang lebih padat jika dibandingkan dengan Yupiter dan Saturnus.
Satelit yang beredar mengelilingi Neptunus ada dua, yaitu Triton dan
Nereid. Planet Neptunus memiliki dua cincin utama dan dua cincin redup
di bagian dalam yang memiliki lebar sekitar 15 km.
Pada awalnya planet yang diakui dalam sistem tata surya jumlahnya ada
sembilan. Setelah kedelapan planet yang telah diuraikan di atas, masih
ada planet kesembilan yaitu Pluto. Akan tetapi, setelah diseleng-
garakannya pertemuan International Astronomical Union (IAU) ke-26 di
Praha Republik Ceko pada 24 Agustus 2006, 424 ahli astronom dari seluruh
dunia memutuskan dan menyepakati untuk mengeluarkan Pluto dari
statusnya sebagai suatu planet. Akibatnya, Pluto yang selama ini dikenal
sebagai planet terkecil dan menempati urutan kesembilan harus keluar
dari daftar planet anggota dari tata surya. Status Pluto sekarang ini
adalah menjadi planet kerdil (dwarf planet).
Para ahli astronom menyepakati bahwa benda angkasa disebut planet jika
memiliki ukuran cukup besar dan berada tetap di garis orbitnya selama
mengitari matahari, serta tidak mengalami garis edar tumpang-tindih
dengan planet lain. Menurut para ahli, garis orbit Pluto tumpang tindih
dengan orbit Neptunus sehingga secara otomatis Pluto terdiskualifikasi
dari klasifikasi planet dalam sistem tata surya.
4. Komet
Komet merupakan anggota tata surya yang terdiri atas pecahan benda
angkasa, es, dan gas yang membeku. Komet mengorbit matahari dalam suatu
lintasan yang berbentuk elips. Strukturnya terdiri atas kepala dan ekor
komet. Kepala komet berdiameter lebih dari 65.000 km meliputi inti dan
koma.
Adapun ekor komet memiliki panjang sampai ribuan kilometer yang arahnya selalu menjauhi atau berlawanan dengan matahari.
Berdasarkan bentuk dan panjang lintasannya, komet dapat di- klasifikasikan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
- Komet Berekor Panjang,
yaitu komet dengan garis lintasannya sangat jauh melalui daerah-daerah
yang sangat dingin di angkasa sehingga berkesempatan menyerap gas-gas
daerah yang dilaluinya. Ketika mendekati matahari, komet tersebut
melepaskan gas sehingga membentuk koma dan ekor yang sangat panjang.
Contohnya, Komet Kohoutek yang melintas dekat matahari setiap 75.000
tahun sekali dan Komet Halley setiap 76 tahun sekali.
- Komet Berekor Pendek,
yaitu komet yang garis lintasannya sangat pendek sehingga kurang
memiliki kesempatan untuk menyerap gas di daerah yang dilaluinya. Ketika
mendekati matahari, komet tersebut melepaskan gas yang sangat sedikit
sehingga hanya membentuk koma dan ekor yang sangat pendek bahkan hampir
tidak berekor. Contohnya Komet Encke yang melintas mendekati matahari
setiap 3,3 tahun sekali.
Pada 1705, Edmund Halley memperkirakan bahwa komet terlihat pada 1531,
1607, dan 1682 dan kembali lagi pada 1758. Karena hal ter- sebut, salah
satu dari sekian banyak komet diberikan nama komet Halley. Rata-rata
periode munculnya orbit komet Halley antara set iap 76–79 tahun sekali.
Komet Halley terakhir terlihat pada 1986 yang lalu. Inti atau pusat dari
komet Halley diperkirakan kurang lebih 16x8x8 km. Inti dari komet
Halley sangat gelap. Diperkirakan komet Halley akan tampak lagi pada
2061. Selain komet Halley, terdapat berbagai macam nama komet lainnya,
di antaranya komet Hyakutake dan komet Hale-Bopp.
5. Meteor
Meteor adalah benda angkasa berupa pecahan batuan angkasa yang jatuh dan
masuk ke dalam atmosfer bumi. Ketika meteor masuk ke dalam atmosfer
bumi maka akan terjadi gesekan dengan udara sehingga benda tersebut akan
menjadi panas dan terbakar. Meteor yang tidak habis terbakar di
atmosfer bumi dan sampai ke permukaan bumi disebut meteorit. Tumbukan
meteorit berukuran besar pada permukaan bumi seringkali menimbulkan
lubang besar di permukaan bumi yang disebut kawah meteorit, contohnya
Kawah Meteorit Arizona di Amerika Serikat yang lebarnya sekitar 1.265 m.
6. Asteroid
Asteroid adalah kumpulan planet kecil yang terdapat di antara orbit Mars
dan Yupiter. Penemuan asteroid diawali karena adanya kecurigaan para
ahli astronomi yang melihat bahwa antara Planet Mars dan Yupiter
dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh.
Para astronom berlomba untuk menyelidikinya dan berkeyakinan bahwa di
tempat tersebut terdapat planet yang belum diketahui. Sampai saat ini
telah teridentifikasi lebih kurang 5.000 asteroid pada daerah tersebut
dan diprediksikan seluruhnya terdapat lebih dari 50.000 asteroid.
Beberapa asteroid yang telah diidentifikasi antara lain Ceres merupakan
asteroid terbesar dengan diameter 780 km, Pallas 560 km, Vesta 490 km,
Hygeva 388 km, Juno 360 km, dan Davida 272 km.
Garis edar asteroid pada umumnya beredar di antara garis edar Mars dan
Yupiter. Akan tetapi, ada pula beberapa asteroid yang menyimpang ke luar
melintasi garis edar dari kedua planet tersebut.
Awal mula keberadaan asteroid yang berjumlah puluhan ribu di antara
orbit Mars dan Yupiter belum diketahui secara pasti. Secara teoretis
diyakini bahwa asteroid terbentuk karena terjadi benturan diantara
beberapa planet kecil sehingga terpecah-belah menjadi asteroid dengan
jumlah yang cukup banyak.
7. Bulan (The Moon)
Bulan merupakan benda angkasa berbentuk bulat yang beredar menge-
lilingi bumi dalam suatu lintasan yang disebut garis edar atau orbit
tertentu. Oleh karena bulan selalu bergerak mengelilingi bumi kemanapun
bumi bergerak maka bulan merupakan satelit bumi (satelit artinya
pengikut). Selain bumi, planet-planet lain yang memiliki satelit adalah
Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus
Diameter bulan lebih kurang 3.476 km atau sekitar 1/4 diameter bumi,
jarak rata-ratanya ke bumi sekitar 384.000 km. Periode revolusi bulan
terhadap bumi sekitar 27,3 hari, sedangkan periode rotasinya sama dengan
revolusinya, yaitu 27,3 hari atau satu bulan sideris, yaitu peredaran
bulan mengelilingi bumi dalam suatu lingkaran penuh (360°). Ciri dari
bulan yang telah menyelesaikan satu lingkaran penuh, adalah posisi bulan
terhadap bumi telah kembali pada posisi semula.
Bulan merupakan benda angkasa yang sangat kecil gravitasinya kira- kira
hanya 1/6 gravitasi bumi. Akibatnya bulan tidak mampu mengikat
atmosfer. Ketiadaan atmosfer di bulan menjadikan keadaan bulan sangat
sunyi karena tidak terdapat media yang berfungsi merambatkan gelombang
suara. Akibat lainnya adalah pada siang hari suhu permukaan bulan
menjadi sangat panas, yaitu mencapai 100° C, sedangkan pada bagian bulan
yang mengalami malam hari suhu permukaannya menjadi sangat dingin,
yaitu mencapai -150° C.
Bulan mengelilingi bumi dalam jangka waktu satu bulan. Pergerakan bulan
dari waktu ke waktu menyebabkan terjadinya perubahan sudut yang dibentuk
oleh garis yang menghubungkan antara matahari, bumi, dan bulan.
Perubahan sudut tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan penampakan
bulan jika dilihat dari bumi yang disebut fase bulan. Jika bulan berada
pada posisi terdekat ke matahari, bagian bulan yang menghadap ke bumi
akan tampak gelap, keadaan seperti itu disebut fase bulan baru.
Sementara bulan melanjutkan pergerakannya mengitari bumi, tampak bulan
berubah pula menjadi fase bulan sabit, lalu bulan setengah, bulan tiga
perempat, kemudian menjadi bulan purnama. Setelah tercapai fase
purnama, fase berikutnya adalah kebalikannya sampai pada akhirnya
terjadi fase gelap atau bulan baru kembali.
8. Gerhana
Bumi dan bulan merupakan benda angkasa yang tidak memiliki cahaya
sendiri. Tanpa adanya cahaya matahari yang dipantulkan oleh bumi maupun
bulan, maka bumi tidak akan terlihat dari bulan demikian juga bulan
tidak akan terlihat dari bumi.
Jika dalam peredarannya bumi maupun bulan berada dalam suatu garis lurus
dengan matahari, maka memungkinkan akan terjadinya peristiwa gerhana
matahari atau bulan.
a. Gerhana Matahari
Gerhana matahari merupakan gerhana yang terjadi sebagai akibat
bayang-bayang bulan mengenai bumi, dimana cahaya matahari yang menuju
bumi pada siang hari terhalang bulatan bulan. Oleh karena diameter bulan
tidak lebih besar dari diameter bumi, maka gerhana matahari hanya
terjadi pada sebagian kecil permukaan bumi dan berlangsung lebih kurang 7
menit.
b. Gerhana Bulan
Gerhana bulan adalah gerhana yang terjadi akibat bayang-bayang bumi
mengenai bulan, artinya cahaya matahari yang menuju bulan pada malam
hari terhalang oleh bulatan bumi. Diameter bumi lebih besar dari
diameter bulan. Seluruh bulatan bulan akan tertutup oleh bulatan bumi
sehingga ketika peristiwa gerhana bulan, seluruh permukaan bumi yang
saat itu terjadi malam hari akan mengalami gerhana bulan yang
berlangsung lebih kurang dalam rentang waktu 1 jam 40 menit.